Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Cara Menghadapi Cuaca Buruk dan Hipotermia Saat Mendaki Gunung

Aktivitas manusia selalu mengandung risiko, dan seringkali risiko tersebut tidak bisa dicegah atau dikendalikan namun hanya bisa ditangani supaya tidak menjadi kematian.

Kegiatan mendaki gunung termasuk aktivitas manusia yang mempunyai risiko tinggi. Hal ini disebabkan aktivitas tersebut berada di tempat yang tidak lazim menjadi tempat tinggal atau aktivitas manusia.

Cara Menghadapi Cuaca Buruk dan Hipotermia Saat Mendaki Gunung

Untuk menghindari risiko pada aktivitas mendaki gunung makayang dapat dilakukan, yang dilansir dari Minangku.com :

  1. Gunakan peralatan lengkap sesuai dengan standard keselamatan yang sesuai dengan kriteria alam yang ada.
  2. Patuhi peraturan yang berlaku dan kearifan lokal setempat.
  3. Kendalikan diri untuk tidak melakukan aktivitas yang melampui batas kekuatan manusia.

Jika ketiga aspek di atas sudah tidak ditepati maka risiko tersebut dipastikan akan menghampiri anda.

Patut diingat bahwa pendaki yang sudah mempersiapkan diri dengan baik dan mengenal medan dengan baik masih bisa terkena risiko berbahaya, apalagi yang tidak menggunakan peralatan dengan baik dan tidak mematuhi peraturan yang berlaku.

Meskipun sudah dihindari, risiko tetap saja berpeluang terjadi, mengingat bahwa ada beberapa faktor yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia misal cuaca, kondisi lingkungan, dan faktor lain.

Di bawah ini adalah kondisi-kondisi darurat yang terjadi akibat risiko kegiatan mendaki gunung dan cara penanganan pertama yang harus dilakukan untuk menghindari dampak fatal.

Cuaca Buruk

 Cuaca buruk jika sudah terjadi tidak bisa dihindari ataupun dicegah, yang bisa kita lakukan secara prinsip mencari/membuat tempat yang aman untuk melindungi diri. Pada saat terjadi cuaca buruk maka yang harus kita lakukan adalah :

  1. Biasanya cuaca buruk akan didahului oleh tanda-tanda alam seperti mendung tebal, halilintar, dan perilaku hewan, misal serangga dan burung-burung yang tiba-tiba menghilang atau tidak bersuara, jika sudah terjadi hal tersebut maka segera cari tempat yang aman, dirikan tenda atau buat perlindungan dan segera istirahat.
  2. Pastikan bahwa tempat perlindungan aman, jangan beristirahat di bawah pohon yang rapuh atau di bawah tebing yang rawan longsor, atau di daerah aliran air, atau di daerah lintasan hewan.
  3. Jika cuaca buruk tiba-tiba datang dan belum sempat membuat perlindungan misal kabut tebal, maka lebih baik berhenti sambil melakukan observasi, jangan panik, dan setelah memperoleh tempat yang baik segera membuat tempat perlindungan.
  4. Sebaiknya jas hujan/ponco diletakkan di tempat yang mudah diambil sehingga ketika hujan lebat datang tiba-tiba bisa digunakan secara cepat untuk melindungi diri sambil menunggu mendirikan tenda/tempat perlindungan.
  5. Jika tidak mungkin untuk mendirikan tenda dan cuaca semakin buruk maka pilihan terbaik adalah kembali pulang melalui jalan yang sudah dikenali.

 Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi tubuh yang mengalami penurunan suhu badan. Manusia normal mempunyai suhu badan antara 36-37 derajat Celcius.

Jika suhu badan menurun misal hingga pada titik 32 derajat Celcius maka organ-organ tubuh tidak dapat berfungsi normal.

Gejala terkena hipotermia adalah kedinginan, menggigil, lemas, kehilangan orientasi, pucat, hingga terkadang bibir terlihat membiru.

Gejala awal yang terlihat simpel adalah tiba-tiba terjatuh (disorientasi), dan dalam beberapa kasus bisa sampai teriak-teriak dan dianggap kesurupan. Kondisi paling parah jika penderita sudah tidak sadarkan diri.

 Penurunan suhu yang memicu hipotermia karena 2 hal utama yaitu : 

  1. Tubuh kontak dengan udara dingin, dan atau pakaian yang dikenakan basah, sehingga panas tubuh kalah oleh suhu dingin dari luar tubuh.
  2. Kurang makan dan minum sehingga energi untuk menciptakan panas terbatas.
  3. Penyebab lain misal menderita penyakit tertentu.

 Penanganan terhadap penderita hipotermia adalah sebagai berikut :

 Lindungi penderita dari kontak langsung dengan udara dingin. Periksa pakaian penderita, jika basah segera ganti dengan yang kering atau dilepas. Selimuti penderita dengan thermal blanket (dapat dibeli di toko-toko outdoor seharga Rp. 40.000-100.000), lalu lapisi dengan sleeping bag.

  1. Naikkan suhu tubuh penderita dengan cara kompres menggunakan botol berisi air hangat, dekatkan dengan sumber panas misal kompor, perapian, dan beri minuman/makanan hangat.
  2. Penderita diajak komunikasi supaya tetap sadar.
  3. Jika penderita tidak sadar usahakan penderita untuk sadar dengan diberi stimulus tertentu seperti panggilan nama atau dirangsang dengan bau-baun (minyak kayu putih), dipijit dll.
  4. Jika penderita berteriak-teriak maka usahakan agar penderita tenang dan tetap dalam kendali penolong. Jangan turuti permintaan penderita yang tidak rasional karena saat terkena hipotermia penderita sering kali tidak dapat berpikir dengan normal.

 Hal yang TIDAK BOLEH dilakukan pada penderita hipotermia :

  1. Membiarkan penderita menggunakan pakaian basah.
  2. Menganggap penderita kesurupan dan menuruti permintaan penderita.
  3. Membiarkan penderita sendirian.

 Hipotermia bisa dicegah, bisa ditangani, yang penting adalah penolong dalam kondisi tenang dan tersedia peralatan penolong seperti thermnal blanket, sleeping bag, alat untuk mengkompres dan makanan/minuman hangat.

 Mendaki gunung tentu bukan untuk menjadi celaka. Mari mendaki gunung dengan cermat dan cerdas dengan memprsiapkan diri sebaik-baiknya dan mempersiapkan peralatan untuk penanganan kondisi darurat, supaya besok bisa naik gunung lagi.

Berlangganan